Umroh Ramadhan 2019 Murah

Ibadah umroh & jua haji sendiri, adalah ibadah yang dijalani dikota suci Makkah. Selain itu pula ibadah haji & umroh ini sendiri merupakan ibadah yang begitu didambakan sekali oleh hampir semua kaum muslim yang terdapat di semua global ini.

Siapa sih yang tidak ingin menginjakkan kakinya di tanah suci Makkah, & sanggup melakukan ibadah disana. Tentu saja moment langka ini sangat didambakan sekali. Terutama bagi mereka yg memang sudah benar-sahih merindukan sekali yg namanya berkunjung kerumah Allah.

Meski haji dan umroh ini sama-sama merupakan ibadah yg dijalani ditanah suci Makkah. Tetapi pastinya ada beberapa perbedaan diantara kedua ibadah ini, terutama adalah perkara porto yang dimuntahkan & jua masalah saat pelaksanaannya.

Lantaran umroh ini bisa dilakukan kapan saja, termasuk waktu bulan Ramadhan. Sedangkan buat ibadah haji ini sendiri hanya bisa dilakukan 1 kali saja pada setiap tahunnya. Sehingga bagi mereka yg memang telah begitu merindukan sekali buat bisa melakukan ibadah ketanah suci, memilih buat menjalani ibadah umroh saja. Apalagi kini sudah banyak sekali banyak sekali macam Paket Umroh Ramadhan 2018.

Salah satu biro bepergian ibadah umroh yang menunjukkan Paket Umroh Ramadhan 2018 adalah menurut Mabrur Mandiri NDW, dimana biro perjalanan ini sendiri adalah galat satu biro perjalanan resmi dan pula terpercaya, yg sudah sangat berpengalaman sekali mengantarkan para calon jamaah buat sanggup menjalani ibadahh umroh ke tanah kudus Makkah.

Apalagi bila Biaya Umroh Ramadhan 2018 yang ditawarkan ini sangat terjangkau sekali. Sehingga sangat cocok sekali bagi anda yg ingin menjalani ibadah umroh pada bulan Ramadhan, tetapi hanya mempunyai dana terbatas. Anda sanggup menjalani Umroh lailatul Qodar ini sambil menantikan malam datangnya lailatul Qodar, yg merupakan bulan paling baik diantara 1000 bulan.

Apakah Abah dan Umi sedang mencari Paket Umroh Ramadhan pada Surabaya 2018 Terbaik? Bila iya, alhamdulillah sudah dipertemukan dengan website Mabrur Mandiri Travel Umroh Surabaya ini.

Lantaran lewat artikel Umroh Ramadhan 2018 ini kami selaku Travel Umroh Murah pada Surabaya ingin sedikit memberikan liputan pada Abah dan Umi tentang Paket Umroh Ramadhan 2018 Surabaya pada tahun 2018, insya Allah Mabrur Mandiri membuka registrasi embarkasi Umroh Awal Ramadhan pada Surabaya 2018 Terbaik dan Umroh Akhir Ramadhan di Surabaya 2018, apakah sebabnya?

Apabila Abah & Umi memilih berangkat Umroh Awal Ramadhan Tahun 2018 Murah Kelebihannya yaitu sanggup menikmati suasana Madinah dan Makkah pada awal ramadhan yg penuh keberkahan di 10 hari pertama Ramadhan, selain faktor tadi pula ada laba lainnya yang cuaca di awal Ramadhan yg nanti bertepatan dengan pertengahan bulan Mei disana sedikit masih lebih normal daripada di akhir Ramadhan yang mendekati bulan Juni yg mana Madinah & Makkah telah mendekati trend-demam isu Panas.

Namun, bila Abah & Umi memang sudah memiliki niat buat mencari Malam yg lebih Utama dari 1000 Bulan yaitu Lailatul Qadar insya Allah Mabrur Mandiri pula telah memiliki Paket Umroh Akhir Ramadhan 2018 di Surabaya.

Paket Akhir Ramadhan memang sangat cocok bagi yg ingin beribadah secara full pada Madinah dan Makkah buat mencari keberkahan dan Ridha Allah SWT.

Karena itu buat semua kebutuhan Ibadah Umroh Abah dan Umi, Travel Umroh pada Surabaya Mabrur Mandiri membuka Paket Umroh Awal Ramadhan 2018 & Umroh Akhir Ramadhan 2018, & menjadi pelengkap fasilitas, Paket Umroh Ramadhan 2018 pada Surabaya ini akan menggunakan Pesawat Saudia Airlines Surabaya Langsung Madinah, tanpa perlu transit & menunggu di bandara yang akan mengakibatkan keletihan, kecapekan, dan menurunkan semangat sebelum beribadah Umroh di Tanah Suci.

PAKET UMROH RAMADHAN 2018 LENGKAP
Berbagai macam Paket Umroh Ramadhan 2018 yg sudah disediakan pun sangat lengkap sekali. Mulai menurut Paket Umroh Awal Ramadhan, Paket Umroh Tengah Ramadhan, Paket Umroh Akhir Ramadhan, dan yang terakhir merupakan Paket Umroh Full Ramadhan.

Sehingga anda pun sanggup memilih sendiri saat yg tepat buat menjalani ibadah umroh pada bulan suci Ramadhan tadi. Yang pula sanggup anda sesuaikan menggunakan waktu luang yg anda miliki. Bagi para calon jamaah umroh yg baru pertama kali akan melakukan bepergian umroh akan diberikan bimbingan khusus, supaya pada perjalanan Umroh Ramadhan ini tidak mengalami kendala dan menjadikan ibadah umrohnya menjadi kenangan yg terindah pada hidupnya.

Tentunya terdapat banyak sekali aneka macam macam keuntungan yg bisa anda dapatkan bila memakai Paket Umroh Ramadhan 2018. Lantaran selain anda melakukan ibadah ke tanah kudus buat menjalani umroh, namun anda bisa menantikan malam lailatul Qodar ini ditanah kudus Makkah.

Sehingga mampu anda bayangkan hal ini menjadi keliru satu ladang amal yang mampu anda kejar dan dapatkan. Supaya taraf keimanan anda pun tentunya semakin lebih meningkat lagi. Sebab bulan kudus Ramadhan ini sendiri adalah bulan yg penuh berkah, apalagi apabila anda mengisinya dengan menjalani berbagai macam ibadah disana.

Jadi wajar saja kalau banyak orang yg tertarik buat menjalani Paket Umroh Ramadhan ini. Supaya mereka tidak hanya bisa menjalani ibadah umroh saja ketanah suci, tetapi bisa menantikan yg namanya malam lailatul Qodar.

Kalau anda sendiri tertarik buat menerima Paket Umroh Ramadhan 2018 ini, silahkan anda sanggup eksklusif daftarkan diri anda sekarang pula dibiro perjalanan umroh Mabrur Mandiri NDW ini saja. Jangan hingga anda kehabisan kuota yg ditawarkan.

Karena paket ini sendiri kuotanya sangat terbatas sekali, berbagai macam fasilitas lainnya pun tentu saja tak lupa dibekali, supaya semakin menciptakan bepergian ibadah anda ketanah kudus Makkah tersebut bisa berjalan lebih lancar dan aman lagi tentunya.

Jangan hingga anda keliru pilih biro perjanan ibadah umroh. Karena banyak pula ketika ini aneka macam macam biro perjalanan ibadah umroh bodong yang palsu & melakukan berbagai macam penipuan, yg pernah ditayangkan baik berdasarkan media televisi juga koran.

Jadi anda telah tidak usah bingung lagi bila ingin mencari biro perjalanan umroh terpercaya dan pula resmi, yg memperlihatkan Umroh Ramadhan 2018. Karena anda mampu langsung hubungi saja kini pula Mabrur Mandiri NDW, yang menunjukkan anda Paket Promo Umroh Murah Ramadhan 2018. Supaya anda bisa memanfaatkan bulan suci Ramadhan ini buat menjalani ibadah umroh ketanah kudus Makkah. Agar semakin mempertebal jua tingkat keimanan anda tentunya.

Selain Paket Umroh Ramadhan 2018, Mabrur Mandiri NDW pula dikenal menjadi Penyedia Layanan Umrah Murah , Umroh Murah merupakan semua program paket umroh reguler dengan harga yg di bawah rata-rata, tetapi mempunyai fasilitas di atas rata-homogen.

Karenanya, pilihan paket biaya umroh misalnya ini terjangkau sang seluruh lapisan masyarakat. (Lihat arti umroh serta arti murah.)
Harga mulai (minimal/termurah yg masuk akal) Rp. 19 jutaan.
Fasilitas di atas rata-rata paket setara yg ditawarkan travel lainnya.
Hotel & pesawat sudah dibooking jauh-jauh hari. Sehingga walaupun murah di sisi harga, seat hotel & tiket pesawat kondusif terkendali (Insya Allah).
Tidak terdapat tanda money game, skema ponzi, MLM, atau investasi & bisnis lainnya. Boro-boro money game dan sebagainya seperti pada atas, bahkan jamaah belum daftar saja pesawat dan hotel telah dibooking duluan. (Jadi, Mabrur berdikari menjual paket umroh ialah dengan menggunakan porto produksi berupa dana menurut modal perusahaan buat membooking hotel dan pesawat pada muka sebelum jamaah menetapkan mendaftar di Mabrur mandiri. Sehingga paket umrah yg dijual Mabrur mandiri sahih-sahih nyata. Tidak bodong atau masih belum pasti yang dijual apa.)
Testimoni lebih banyak didominasi jamaah sangat memuaskan.
Jamaah semakin poly mendaftar.
Semakin banyak repeat order.

Tidak perlu menunggu usang, seat cepat terisi penuh.
Persoalannya di sini merupakan tidak seluruh acara umroh ekonomis yg murah di Surabaya (dan pada tempat lainnya) itu rupawan. Tapi tidak semua umroh mahal jua cantik pelayanannya.

Semoga kita semua menerima umrah yang terbaik fasilitas & pelayanannya (tidak pada bawah baku harapan kita). Aamiin Yaa Rabbal ‘aalamiin.
Semoga Bermanfaat Semoga Allah Subhanahu WaTa’ala meridhoi dan mendapat ibadah kita…
Aamiin.

Tata Cara Pelaksanaan Umroh

INI DIA TATA CARA PELAKSANAAN UMROH DAN HAJI

Tata Cara Pelaksanaan Ibadah Haji dan Umrah
Tata Cara Pelaksanaan Ibadah Haji
Tata Cara Pelaksanaan Ibadah Umrah

Tata Cara Pelaksanaan Ibadah Haji
Pelaksanaan amalan ibadah haji dimulai sejak tanggal eight Dzulhijjah, dengan rincian sebagai berikut:

Tanggal eight Dzulhijjah (Hari Tarwiyah) [Disebut dengan hari tarwiyah, karena para jama’ah haji menyiapkan bekal secukupnya untuk menuju mina dan padang arafah, karena kedua tempat tersebut tidak ada sumber air]
1 – Jamaah haji melakukan ihram untuk ibadah haji, dimulai dengan mandi, memakai wewangian serta mengenakan pakaian ihram, sambil ber-talbiyah mengucapkan, “Labbaika allahumma hajjan, labbaika allahumma labbaik, labbaika los angeles syarika laka labbaika, innal hamda wan nikmata laka wal mulku l. A. Syarika laka.” [HR. Bukhari]

2 – Berangkat menuju Mina dan setelah di Mina, mereka mendirikan shalat zhuhur, ashar, maghrib dan isya serta shalat subuh. Setiap shalat dikerjakan pada waktunya, namun shalat yang jumlah rakaatnya empat diqashar sehingga menjadi dua rakaat. Para jamaah tetap berada di Mina sampai matahari terbit pada tanggal 9 Dzulhijjah.

IhramMemakai parfumMandiMina
Tanggal 9 Dzulhijjah (hari arafah)
1 – Jamaah haji berangkat menuju ke Arafah setelah matahari terbit sambil melafazhkan talbiyah. Disunnahkan bagi jama’ah untuk singgah di namirah dan jika memungkinkan berdiam di sana hingga matahari tergelincir, jika memungkinkan. Namirah adalah sebuah tempat yang terletak dekat perbatasan arafah, apabila matahari tergelincir, dan masuk maktu zhuhur. Disunnahkan bagi imam atau orang yang diwakilkan untuk menyampaikan khutbah di hadapan para jama’ah, berkenaan dengan kondisi kaum muslimin, agar kembali memperbaharui tauhid, hukum-hukum seputar ibadah haji, dan perkara-perkara penting lainnya.

2 – Kemudian mereka mendirikan shalat zhuhur dan ashar dengan cara qashar dan jamak taqdim, hari Disunnahkan bagi jama’ah pada hari tersebut menghadap kiblat sambil memperbanyak do’a dengan tadharru’ dan khusyu’ kepada Allah subhanahu wata’ala. Dan juga disunnahkan untuk terus-menerus berdo’a dan mengulang-ulangnya. Sebaik-baik do’a yaitu do’a pada arafah; Dan do’a yang paling baik yang aku ucapkan dan para Nabi sebelumku ; La ilaha illallah wahdahu la syarikalah, lahulmulku wa lahulhamdu wa huwa ala kulli syaiin qadiir, (Tidak ada dzat yang berhak disembah kecuali Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dialah pemiliki kekuasaan dan segala pujian dan ia berkuasa atas segala sesuatu.). [HR. Tirmidzi] Disunnahkan juga untuk melafazhkan do’a-do’a ma’tsur, dan meninggalkan do’a-do’a yang tidak dicontohkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Apabila para jama’ah membaca Al Qur’an maka itu lebih baik, dan juga disunnahkan memperbanyak shalawat kepada Nabi.

3 – Para jama’ah haji berang dari arafah menuju muzdalifah setelah matahari terbenam, dan tidak boleh keluar dari arafah sebelum matahari terbenam, apabila seorang keluar sebelum terbenam matahari ia wajib kembali walaupun pada malam hari, karena kalau tidak, maka ia wajib membayar dam (denda) satu ekor kambing, sepertujuh unta atau sepertujuh sapi.

MuzdalifahNamirahArafah
Beberapa Hal Penting
1 – Wukuf di arafah maksudnya adalah para jama’ah berada di padang arafah pada tanggal 9 dzulhijah, baik dalam keadaan berdiri, duduk, berbaring atau dalam kendaraan. Bukan seperti yang diartikan banya orang berdiri (qiyam) saja.

2 – Wukuf di arafah termasuk rukun haji, dan haji tidak sah tanpa mengerjakan wukuf di arafah. Apabila seseorang meninggalkan wukuf berarti dia belum mengerjakan haji. Dalilnya sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Pelaksanaan haji adalah wukuf di Arafah “. [HR. Ahmad]

3 – Waktu wukuf di arafah mulai dari terbit fajar tanggal 9 dzulhijah hingga terbit fajar tanggal 10 dzulhijah. Barang siapa yang melakukan wukuf pada waktu tersebut walaupun sebentar, maka ia dianggap telah mengerjakan wukuf, dan hajinya sah. Barang siapa yang tidak mengerjakan wukuf pada waktu tersebut maka hajinya tidak sah, sebagaimana yang diriwayatkan dalam dari ibnu ‘abbas hadits marfu’ “barang siapa yang mengerjakan wukuf sebelum matahari terbit (pada tanggal 10 dzulhijjah) maka ia telah mengerjakan haji”. [Disahihkan oleh Al-Albani (No. 5995) dalam shahihul jami’]

4 – Semua tempat di arafah adalah tempat wukuf, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melakukan wukuf dekat sebuah bukit di shakhrat sembari meghadap kiblat, dan Beliau tidak naik ke bukit tersebut, dan bersabda ; “disini aku mengerjakan wukuf (bukit dekat shakhrat), dan semua arafah adalah tempat wukuf” [HR. Muslim]. Jika memungkinkan disunnahkan bagi para jama’ah untuk melakukan wukuf di tempat Rasulullah melakukan wukuf, jika tidak, maka ia bisa melakukan wukuf di mana saja di arafah. Tidak sah wukuf seseorang di lembah yang terletak sebelum place arafah, namanya lembah ‘uranah, tidak naik ke bukit, dan tidak menaiki shakhrat. Arafah memiliki batas-batas place yang sudah lama diketahui, dan sekarang tanda-tanda baru sudah dipasang dan luas, sehingga diketahui batas-batasnya dari seluruh penjuru.

Five – Para jama’ah haji dianjurkan untuk meresapi keagungan dan keutamaan hari arafah. Karena pada hari itu Allah SWT. Membanggakan para hamba-Nya yang sedang berkumpul di Arafah di hadapan para malaikat-Nya. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda” : Tidak ada satu hari yang lebih banyak Allah memerdekakan hamba dari neraka pada hari itu daripada hari Arafah. Dan sesungguhnya Allah mendekat, kemudian Dia membanggakan mereka (para hamba-Nya yang sedang berkumpul di Arafah) kepada para malaikat. Dia berfirman, ‘Apa keinginan mereka (akan Ku kabulkan)?” . [HR. Muslim] Dianjurkan bagi para jama’ah untuk memanfaat waktu-waktu yang paling afdhal tersebut, untuk memperbaharui taubat, muhasabah diri, dan tidak membuang-buang waktu dengan banyak berjalan, berbicara dan perdebatan.

Malam kesepuluh bulan dzulhijah ; berangkat menuju muzdalifah;
1 – Jama’ah haji berangkat dari arafah menuju muzdalifah, dan disunnahkan berangkat dengan tenang agar tidak mengganggu orang lain, dan disunnahkan senantiasa melafazhkan talbiyah dan memperbanyak dzikir kepada Allah.

2 – Apabila telah sampai di muzdalifah, maka para jama’ah mengerjakan shalat maghrib kemudian dijama’ dengan shalat isya’ yang diqashar, hal tersebut dilakukan sebelum para jama’ah disibukkan dengan barang-barangnya.

3 – Wajib hukumnya bermalam di muzdalifah pada malam kesepuluh dan mengerjakan shalat subuh pada waktu fajar. Tidak boleh meninggalkan muzdalifah kecuali bagi orang yang lemah seperti wanita, anak-anak dan orang-orang yang bersama mereka, atau para petugas haji, maka diboleh bagi mereka untuk meninggalkan muzdalifah pada malam hari apabila bulan telah hilang.

Four – Apabila telah selesai mendirikan shalat subuh, disunnahkan untuk datang ke masy’arul haram kemudian menghadap kiblat dan memperbanyak dzikir, takbir dan berdo’a mengangkat tangan. Aktifitas tersebut dilakukan hingga datang waktu isfar yaitu ; waktu dimana cahaya fajar mulai terang namun sebelum terbit matahari, dimanapun tempat di muzdalifah yang digunakan untuk bermalam hukumnya boleh, berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “aku bermalam disini (muzdalifah), semua tempat di muzdalifah adalah tempat untuk bermalam (mabit)” [HR. Muslim]

5 – Apabila seseorang hendak bertolah dari muzdalifah disunnahkan untuk mengumpulkan tujuh batu kerikil untuk melempar Jamarat pada hari pertama (tasyriq), adapun hari-hari setelahnya maka mengumpulkan batu-batu tersebut di mina, dan diperbolehkan mengumpulkan batu kerikil dimana saja

Hari kesepuluh dzulhijah (hari ‘eid)
1 – Para jamaah melaksanakan shalat fajar di Muzdalifah, dilanjutkan dengan dzikir dan doa sampai sesaat sebelum matahari terbit.

2 – Jama’ah haji bertolak dari muzdalifah menuju mina sebelum terbit matahari. Sambil memperbanyak lafazh talbiyah, dan disunnahkan mempercepat langkah apabila sampai di lembah muhassir, adalah sebuah lembah yang terletak antara muzdalifah dan mina. Dan apabila jama’ah telah sampai di mina maka diwajibkan mengerjakan ibadah hari ‘ied, yaitu semua ibadah haji ; melempar jamratul ‘aqabah, Mencukur atau memotong rambut, thawaf, dan sa’i

three – Apabila para jama’ah telah sampai di mina kemudia menuju jamratul ‘aqabah, yang merupakan jamarat yang terakhir dari arah mina, dan jamratul ula dari arah mekah. Apabila telah sampai di jamarat, maka jama’ah tidak melafazhkan talbiyah lagi, dan memulai dengan melempar tujuh batu kerikil secara berturut-turut, dan bertakbir pada setiap kali lemparan. Waktu melempar dimulai pada subuh hari ‘identity. Apabila melempar sebelum subuh atau akhir malam hukumnya sah, dan batas waktu melempar hingga terbit fajar pada hari ke eleven.

Beberapa penjelasan
– Dilarang bagi seorang muslim untuk menyakiti saudaranya yang juga melaksanakan ibadah haji ketika melempar jamarat, dan menunaikan semua ibadah-ibadah haji.

– Kepada setiap jema’ah haji agar memastikan lemparannya mengenai lubang jumrah . Sebagian orang salah dan beranggapan bahwa melempar pada tiang yang terpancang di lubang jumrah dengan demikian ia tidak melempar di tempat lemparan. Sebagian yang lain melempar dari tempat yang jauh dan tidak mengenai sasaran, hal semacam ini belum dianggap menunaikan kewajiban melempar.

– Dilarang berlebih-lebihan dalam melempar, seperti melempar dengan menggunakan batu yang terlalu besar atau dengan sepatu. Disunnahkan melempar dengan batu yang berukuran lebih besar sedikit dari kurma, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu: “Aku pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melempar jumrah dengan batu semisal batu khodzaf.” [HR. Muslim, batu khadzaf adalah batu kerikil kecil yang bisa diipegang dengan dua jari, yang digunakan untuk melempar jumrah]

– Apabila ia melemparkan semua batu sekali lempar, maka hal tersebut baru dianggap satu kali lempar, Lemparan harus sampai ke arah tempat lempar.

4 – Mencukur habis rambut, atau memendekkan. Lebih afdhal apabila dicukur habis. Dan bagi perempuan memendekkan rambutnya seukuran ujung jarinya.

5 – Berangkat menuju kota Makkah untuk melakukan thawaf ifadhah. Tidak diwajibkan idhthiba’ ketika thawafa ifadhah. Setelah selesai melaksanakan thawaf, jika memungkinkan disunnahkan mendekati maqam ibrahim ‘alaihissalam untuk melaksanakan shalat sunnah dua raka’at dibelakang maqam tersebut. Pada thawaf ifadhah tersebut lebih afdhal untuk melepaskan pakaian ihram, setelah melempar dan mencukur rambut dan mengenakan pakaian biasa dengan menggunakan parfum. Berdasarkan hadits dari ‘aisyah radhiyallahu ‘anhu ; “aku pernah memberi wewangian ketika beliau hendak memakai pakaian ihram dan setelah melepaskan pakaian ihram sebelum beliau melakukan thawaf di ka’bah.” [Muttafaq ‘Alaih]

6 – Waktu pelaksanaan thawaf ifadhah ; setelah terbit matahari pada hari ‘identification. Boleh melakukannya sebelum terbit fajar pada malam ‘id, bagi yang ingin cepat berangkat dari muzdalifah karena sebab tertentu, sakit, para wanita yang membawa anak , atau petugas haji. Dan diperbolehkan menundanya hingga akhir hari ‘identity akan tetapi hal tersebut menyelisihi sunnah.

7 – Bagi orang yang mengerjakan haji tamattu’ diwajbkan sa’i antara shafa dan marwah setelah melaksanakan thawaf ifadhah. Adapun bagi haji ifrad dan qiran jika telah melakukan sa’i setelah thawaf qudum . Tidak diwajibkan baginya untuk sa’i setelah thawaf ifadhah. Apabila telah selesai mengerjakan thawaf ifadhah dan sa’i, maka selesailah seluruh rangkaian ibadah pada hari ‘identification, dan kembali ke mina untuk bermalam pada malam ke sebelas.

Rangkaian Pelaksanaan Ibadah Hari ‘Id
Disunnahkan tertib dalam melaksanakan ibadah pada hari ‘identification sebagai berikut: melempar, menyembelih, Mencukur rambut, thawaf, dan sa’i. Diperbolehkan mendahulukan salah satu rangkaian tertib ibadah pada hari ‘identity tersebut, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberi keringanan. Apabila bercukur terlebih dahulu baru kemudian melempar maka hajinya sah, demikian juga dengan menyembelih terlebih dahulu baru melempar. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah ditanya tentang mendahulukan atau mengakhirkan rangkaian ibadah pada hari ‘id, namun beliau shallallahu ‘alaihi wasallam “kerjakanlah, tidak ada kesulitan pada ibadah-ibadah yang dilakukan pada hari itu” [Muttafaq ‘Alaih]

Melempar Jamratul ‘AqabahMenyembelih Hewan KurbanMencukur atau memotong RambutTawafSa’i antara Safa dan MarwaBermalam di Mina
Tahallul awal dan tahallul tsani: . . .

Tahallul awal : adalah hal yang membolehkan seseorang dari segala yang diharamkan ketika berihram kecuali berhubungan suami istri, mencumbuinya, atau akad nikah hal ini tidak dibolehkan. Tahallul awal dilakukan setelah melempar jumrah ‘aqabah, mencukur atau memendekkan rambut, thawaf dan sa’i.

Tahallul tsani : yaitu diperbolehkannya seseorang melakukan segala yang diharamkan karena berihram. Setelah melakukan semua rangkaian ibadah yang telah dijelaskan sebelumnya.

Hari-hari tasyriq
Ada tiga hari yaitu: tanggal eleven, 12, dan 13 bulan dzulhijah, dinamakan dengan hari tasyriq, karena pada hari tersebut hewan-hewan kurban disembelih ditengah terik matahari. Sabda Rasululla shallallah ‘alaihi wasallam : “ sesungguhnya hari ini adalah hari makan dan minum serta hari berdzikir kepada Allah” [HR. Abu Dawud]

Siang dan malam tanggal eleven dzulhijah:
Diwajibkan bermalam di mina pada malam eleven dzulhijah, sementara pada siang harinya setelah tergelincir matahari, para jama’ah haji melempar di tiga jamarat. Setiap jumrah terdiri dari tujuh kali lemparan. [Yaitu tiga lubang yang mana disetiap lubang ada satu tiang terpancang, jamarat berada di ujung mina dari arah mekah, yang pertama jumrah sughra , wustha, kemudian jumrah kubra yaitu jumrah ‘aqabah, yang berada di perbatasan mina dari arah kota mekah.]

Al-Jamratul UlaAl-Jamratul ‘AqabahAl-Jamratul Wustha
Cara Melempar Jumrah . . .

Dimulai dari jumratul ula: Melempar dengan tujuh kali lemparan secara berturut-turut, sambil bertakbir setiap melempar satu batu kerikil, Lemparan harus mengenai lubang, kemudia agak bergerak maju sedikit dan berdo’a sambil mengangakat tangan.

Kemudian jumratul wustha : melempar sebagaimana yang dilakukan pada jumrah ula, dan berdo’a setelahnya sambil mengangkat tangan

Kemudian jumratul ‘aqabah : melempar dengan tujuh kali lemparan, dan tidak disunnahkan setelahnya berdo’a

hari ke 12 dan malamnya :
diwajibkan bagi jamaah haji untuk bermalam di mina pada malam 12 dzulhijjah. Apabila matahari telah tergelincir, maka para jamaah melakukan pelemparan jamarat seperti hari ke eleven. Apabila ada jamaah yang ingin buru-buru, maka ia melempar dan keluar dari mina sebelum matahari terbenam. Jika matahari terbenam dan ia tetap di mina , bermalam dan melempar jamarat pada hari ke 13 , maka itu lebih baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,“barang siapa yang ingin mempercepat (meninggalkan mina) setelah dua hari, maka tidak ada dosa baginya dan barang siapa mengakhirkannya tidak ada dosa (pula) baginya..“. (Al-Baqarah: 203).

Yang dimaksud dengan dua hari pada ayat tersebut adalah dua hari tasyriq yaitu tanggal eleven dan 12 dzulhijjah, atau menunda hingga menyempurnakan hingga hari ke thirteen

Hari ke 13 dan malamnya :
Setelah matahari tergelincir, kembali melempar jamarat seperti hari-hari sebelumnya, hingga selesai waktu melempar pada waktu terbenam matahari pada hari ke 13

Menunda Melempar Jamarat
Diperbolehkan bagi jama’ah haji untuk menunda melempar jamarat satu hari setelah tanggal 11, atau menundanya hingga hari akhir dari har-hari tasyriq yaitu hari ke thirteen, karena semua hari tasyriq adalah waktu melempar jumrah

Cara melempar bagi yang menundanya
Ia harus melempar jamarat untuk hari pertama kemudian balik lagi ke jumrah sughra melempar hari kedua demikian seterusnya, pada saat matahari tergelincir

Tawaf Wada’
Apabila seseorang ingin berangkat keluar kota mekah, maka wajib baginya untuk melakukan tawaf wada’, ia termasuk kewajiban haji, tidak sa’i setelahnya. Kewajiban tawaf wada’ gugur bagi wanita haidh dan nifas.

Menunda Tawaf Ifadhah dan Melakukannya di Tawaf Wada’
Dibolehkan menunda tawaf ifadhah dan melakukannya di tawaf wada’, namun hal demikian menyelisihi sunnah, hukumnya sah dengan syarat ia berniat tawaf ifadhah dan melakukan sa’i setelahnya.

Hikmah di Balik Disyari’atkannya Tawaf . . .

Rahasia dibalik perintah tawaf, sa’i dan melempar jamarat adalah dalam rangka dzikir kepada Allah.

Tata Cara Pelaksanaan Ibadah Umrah
1 – Jika seorang yang berumrah sampai di Miqat makani, disunnahkan untuk mandi, memakai wewangian, mengenakan pakaian ihram dan melafazkan niatnya dengan mengucapkan, “Labbaika umratan.” (Aku penuhi panggilanmu untuk berumrah).

MandiIhramMemakai Parfum
2 – Ia memulai talbiyah dengan mengucapkan,“Labbaika allahumma labbaika, labbaika l. A. Syarika laka labbaik, innal hamda wan nikmata laka wal mulku los angeles syarika laka“ (Aku memenuhi paggilan-Mu ya Rabb aku memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagimu sesungguhnya pujian dan semua nikmat adalah milikmu demikian pula kekuasaan. Tidak ada sekutu bagi-Mu). [HR.Bukhari] Dan ia tetap talbiyah sampai ia melihat Baitullah dan menyentuh Hajar Aswad.

Three – Setelah itu ia masuk ke Masjid Al-Haram dengan mendahulukan kaki kanannya sambil membaca doa masuk masjid.

4 – Ia berhenti talbiyah dan memulai thawaf. Dimulai dari Hajar Aswad jika memungkinkan untuk mencium atau menyentuhnya. Jika, tidak maka cukup menunjuk ke arahnya.

5 – Menjadikan Ka’bah di sebelah kirinya dan mulai mengelilinginya sebanyak tujuh kali dimulai dari Hajar Aswad dan di akhir di Hajar Aswad pula.

6 – Disunnahkan bagi pria untuk berlari-lari keci di tiga putaran pertama, berlari-lari kecil maksudnya adalah berjalan cepar dengan langkah pendek, dan melakukan Idthibaa’ yaitu membuka pundak sebelah kanan, sehingga kain selendang ihram berada di bawah ketiak kanannya, dan sisi lainnya berada di atas pundak kirinya.

Syarat-syarat sahnya Tawaf
Diantara syarat-syarat sahnya tawaf yaitu; niat, suci, menutup aurat, tawaf sebanyak tujuh kali putaran, dimulai dari Hajar Aswad, Ka’bah di sebelah kiri, terus berputar mengelilngi Ka’bah, kecuali iqamat sudah dikumandangkan, atau ada jenazah, maka ia salat, lalu bangun kembali dari posisi semula untuk melanjutkan tawafnya. Tawaf dilakukan disekitar Ka’bah, bukan di dalam Hijr Ismail, maka tawafnya tidak sah, karena Hijr Ismail adalah bagian dari Ka’bah.

7 – Selama melakukan thawaf ia bebas berdoa apa saja. Dan ketika sejajar dengan Rukun Yamani, ia menyentuhnya dan bertakbir. Antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad dianjurkan mengucapkan doa “Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina azabannar“ (Ya Allah limpahkanlah kebaikan duniawi kapada kami dan limpahkan pula kebaikan akhirat kepada kami dan hindarkanlah kami dari siksa api neraka). [HR. Abu Dawud]

eight – Setelah seorang selesai pada putaran ketujuh, maka ia kembali menutup pundak kanannya tidak beridhthibaa’, karena idthibaa’ hanya disunnahkan ketika tawaf umrah dan tawaf qudum. Kemudian menuju maqam Ibrahim ‘alaihissalam jika memungkinkan lakukan salat dua raka’at dibelakang maqam, pada raka’at pertama setelah Al-Fatihah membaca surah Al-Kafirun, dan pada raka’at kedua membaca surah Al-Ikhlash. Jika hal ini tidak bisa dilakukan, maka seseorang bisa salat dimana saja dibelakang maqam.

Beberapa Penjelasan
1 – Dilarang bagi seorang muslim untuk menyakiti orang lain yang sedang tawaf, dan mempersulit diri demi menyentuh Hajar Aswad atau menciumnya, juga dilarang untuk berlari-lari kecil jika itu mengganggu orang lain.

2 – Berdo’a apa yang mudah baginya pada saat tawaf, karena dalam tawaf tidak ada dzikir atau do’a khusus, selain apa yang telah dijelaskan. Jika seorang yang tawaf hanya membaca Al-Qur’an maka yang demikian tidak mengapa.

3 – Idthibaa’adalah sunnah pada tawaf umrah atau tawaf qudum, di setiap putaran.

4 – Bagi wanita dilarang menampakkan perhiasannya, bau parfum, meninggikan suara ketika berdzikir dan berdo’a

9 – Setelah itu ia mendekati vicinity Shafa sambil membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebahagian dari syiar Allah, maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 158)

10 – Setelah itu ia naik ke bukit Shafa, menghadap kiblat, sambil mengangkat kedua tangannya seraya bertakbir dan bertahmid dan membaca, “La ialaha illallah wahdahu la syarika lahul mulku wa lahul hamdu wa hua ala kulli syain qadiir, aayibuuna taaibuuna aabiduuna saaihuuna lirabbina haamiduuna, shadaqallahu wa’dahu wa nashara abdahu wa hazamal ahzaaba wahdahu.” [HR. Bukhari] (Tidak ada dzat yang berhak disembah kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak ada sekutu baginya, kepunyaannyalah segala kekuasaan dan pujian, dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu, kami kembali, kami bertaubat, kami beribadah dan sujud serta memuji Allah. Allah telah memenuhi janji-Nya dan ia telah menolong hamba-Nya serta Dia telah menghinakan musuh-mushuNya). Kemudian ia berdoa kepada Allah. Dzikir ini dibaca tiga kali dan masing-masing disambung dengan doa. Dan juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “lalu ia berdo’a di Marwa seperti yang dilakukan di bukit Safa” [HR. Muslim]

11 – Kemudian ia turun menuju bukit Marwah sambil mempercepat langkahnya di antara dua tanda berwarna hijau [Yaitu dua tanda yang digunakan sebagai tanda bahwa Siti Hajar mempercepat langkah ketika berlari antara safa dan marwa] , lalu kembali menuju Shafa.

Sa’i antara Safa dan Marwa
12 – Sa’i antara Shafa dan Marwah dilakukan sebanyak tujuh kali. Disunnahkan ketika melakukan sa’i dalam keadaan suci, namun jika ia dalam keadaan berhadats sa’inya sah. Juga disunnahkan berurutan antara sa’i dan tawaf.

Thirteen – Setelah melaksanakan sa’i, ia memendekkaan atau menggunting rambutnya. Bagi kaum wanita dianjurkan memotong sepanjang satu ruas jari. Bagi pria disunnahkan untuk menggundul kepalanya berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam, “Ya Allah ampunilah mereka yang menggundul kepalanya. Para sahabat berkata,“Orang yang memendekkan rambutnya juga ya Rasulullah?’ Beliau bersabda, “Ya Allah ampunilah mereka yang menggundul kepalanya.” Para sahabat berkata, “Orang yang memendekkan rambutnya juga ya Rasulullah?” Beliau mengulanginya sebanyak tiga kali kemudian mengatakan dan orang yang memendekkan rambutnya.” [HR. Bukhari]

14 – Kemudian ia melakukkan tahallul, sekaligus menandakan pelaksanaan umrahnya telah selesai.

Pelaksanaan tawaf dan sa’i bagi kaum wanita sama halnya dengan kaum pria, kecuali ia tidak boleh berlari-lari kecil pada tawaf dan tidak boleh berjalan cepat pada dua tanda hijau, dan tidak mencukur rambutnya, akan tetapi hanya memotong ujunng rambutnya sepanjang ujung jari.